ᴄᴀʀɪ ᴅɪꜱɪɴɪ

Monday, October 28, 2024

PEMPEK MAKANAN KHAS PALEMBANG

   Pempek (atau disebut juga empek-empek) merupakan hidangan bercita rasa ikan yang disajikan dengan kuah berwarna hitam khas Palembang bernama cuko. Makanan yang sudah ada sejak zaman kerajaan ini memiliki beberapa variasi, seperti pempek kapal selam, lenjer, lenggang, dan lain sebagainya.



Sejarah Pempek Palembang

   Mengutip buku Pempek Palembang Makanan Tradisional dari Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan, pempek pertama kali ditemukan pada zaman Kerajaan Sriwijaya atau sekitar abad & Masehi. Hal ini dibuktikan dengan temuan Prasasti Talang Tuo yang menyatakan tanaman sagu sudah ada sejak abad ke-7.

   Sementara, menurut buku Teks Bacaan Berbasis Budaya Lokal Sumatera Selatan Bagi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (2022) oleh Rita Inderawati dkk., pempek alias pempek dikenal di Palembang seiring masuknya perantau Tionghoa di kota tersebut.

  Tepatnya, pada sekitar abad ke-16 pada masa Sultan Badaruddin II dari kerajaan Palembang Darussalam. Pada masa tersebut, makanan ini disebut dengan 'kelesan'.

  Kelesan ialah sajian dalam acara adat di dalam Rumah Limas yang memiliki sifat dan kegunaan tertentu. Diberi nama kelesan, karena makanan ini diolah atau dibentuk dengan cara dikeles hingga dapat disimpan lebih lama.

   Awalnya, pempek dibuat oleh orang asli Palembang yang kemudian dititipkan ke orang Tionghoa untuk dijual. Pempek tersebut mulai dijual oleh orang-orang China pada tahun 1916 dengan cara dijajakan sambil keliling dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki.

   Biasanya, jajanan tersebut dijual di kawasan keraton, yang saat ini adalah kawasan Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang. Penamaan nama pempek berasal dari nama panggilan oleh pembeli kepada si penjual kelesan yang dipanggil dengan 'empek' atau 'apek' yang dalam bahasa China berarti "paman".

   Para pembeli memanggil penjual kelesan tersebut dengan memanggil 'Pek, empek' yang akhirnya dikenal sebagai pempek dan bertahan hingga sekarang.


Sumber : https://www.detik.com/sumbagsel


Blog ke 15

YANGKO MAKANAN KHAS JOGJA

   Saat pergi berwisata ke Jogja, salah satu makanan khas yang tak boleh lupa untuk dijadikan buah tangan adalah yangko. Makanan kenyal dengan warna yang menarik ini bisa jadi pilihan oleh-oleh dengan rasa manis yang pas di mulut.

   Yangko adalah makanan kenyal yang terbuat dari tepung ketan, biasanya dijual dengan berbagai warna menarik. Tak hanya teksturnya yang kenyal dan rasa manisnya yang menarik perhatian, tetapi sejarah atau asal-usul yangko pun sukses membuat penasaran wisatawan untuk mencobanya.


   Dahulu, Kotagede merupakan ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan ini merupakan cikal-bakal Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Jogja. Di kota inilah sejarah yangko bermula.

  Saat itu, makanan yangko dikenal sebagai makanan raja-raja atau para priyayi. Tidak semua rakyat biasa bisa menikmatinya. Bahkan, makanan yangko pernah dijadikan bekal makanan oleh Pangeran Diponegoro saat bergerilya, karena dapat bertahan cukup lama

   Nama yangko diyakini berasal dari kata kiyangko. Dalam pelafalan lidah orang Jawa, kata itu kemudian diucapkan menjadi yangko. Konon, orang yang pertama kali mengenalkannya adalah Mbah Ireng. Meskipun Mbah Ireng sudah membuatnya sejak 1921, yangko baru mulai dikenal luas oleh masyarakat pada sekitar tahun 1939.

  Untuk mendapatkan yangko ini pun tak susah, makanan kenyal ini banyak dijajakan di pusat-pusat jajanan atau pasar tradisional.


Sumber : https://www-detik-com.


Blog ke 14

SUKU BATAK

   Suku Batak adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara, Indonesia. Mereka dikenal memiliki budaya yang kaya dan beragam, serta sejarah yang panjang. Suku Batak terdiri dari beberapa sub-suku, termasuk Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, dan Mandailing. Masing-masing sub-suku memiliki bahasa, adat, dan tradisi yang berbeda, meskipun ada juga kesamaan dalam beberapa aspek budaya. Suku Batak memiliki kedekatan yang kuat dengan alam dan seringkali menggambarkan hubungan ini melalui seni dan ritual yang berakar dari kepercayaan animisme sebelum menerima pengaruh agama Kristen dan Islam.




   Bahasa Batak juga memiliki banyak varian sesuai dengan sub-suku, dengan bahasa Toba sebagai yang paling terkenal. Masyarakat Batak memiliki tradisi lisan yang kaya, termasuk cerita rakyat, mitos, dan sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi. Salah satu ciri khas dari suku Batak adalah sistem kekerabatan yang matrilineal, di mana garis keturunan diturunkan melalui pihak wanita. Hal ini terlihat jelas dalam struktur keluarga dan pengambilan keputusan dalam masyarakat. Upacara adat, seperti pernikahan dan kematian, diadakan dengan sangat meriah dan dihadiri oleh banyak orang, mencerminkan pentingnya solidaritas sosial dalam budaya Batak.


   Suku Batak juga dikenal dengan seni dan kerajinan mereka, termasuk tenun ulos yang merupakan kain tradisional Batak. Ulos sering digunakan dalam berbagai upacara, simbol harapan, dan keharmonisan. Selain itu, musik dan tarian tradisional Batak, seperti gondang sabangunan, juga memiliki peran penting dalam upacara adat dan perayaan. Instrumen musik tradisional, seperti gondang (drum), saxophone, dan serunai (alat tiup), sering dimainkan untuk menemani tarian dan nyanyian yang menggambarkan kisah-kisah dari kehidupan sehari-hari dan kepercayaan mereka.




   Suku Batak memiliki kepercayaan yang kuat terhadap nenek moyang dan ritual pemujaan yang dilakukan untuk menghormati mereka. Hal ini terlihat dalam upacara-upacara yang melibatkan penyembelihan hewan sebagai persembahan kepada roh nenek moyang dan dewa-dewa. Meski banyak orang Batak yang kini beragama Kristen atau Islam, pengaruh tradisi nenek moyang masih tetap kuat dan seringkali digabungkan dengan praktik keagamaan. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan suku Batak untuk beradaptasi dengan perubahan zaman sambil tetap menjaga identitas budaya mereka.


   Dalam konteks modern, suku Batak berperan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama melalui sektor pariwisata dan pertanian. Danau Toba, yang merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia, adalah destinasi wisata utama yang menarik banyak pengunjung domestik dan internasional. Selain itu, banyak orang Batak yang sukses di berbagai bidang, termasuk politik, bisnis, dan seni, yang berkontribusi pada pembangunan masyarakat. Meskipun tantangan globalisasi terus memengaruhi kehidupan tradisional mereka, suku Batak tetap berkomitmen untuk melestarikan budaya dan tradisi mereka agar tetap relevan di masa depan.


Sumber :

1. [Suku Batak di Wikipedia](https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak)

2. [Budaya Batak](https://www.indonesia.travel/gb/en/news/discover-the-beautiful-batak-culture-in-north-sumatra)


Blog ke 13

SUKU BALI

   Suku Bali adalah salah satu suku yang mendiami pulau Bali, Indonesia. Suku ini terkenal dengan budaya dan tradisi yang kaya serta kehidupan masyarakatnya yang berlandaskan pada ajaran Hindu. Sebagian besar penduduk Bali menganut agama Hindu, yang sangat mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka, mulai dari ritual, seni, hingga kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Bali, setiap upacara keagamaan dianggap sangat penting dan dilakukan dengan penuh rasa hormat, baik itu upacara kematian, pernikahan, atau hari raya. Hal ini membuat Bali dikenal sebagai pulau dengan banyak festival dan perayaan yang menarik, seperti Nyepi, Galungan, dan Kuningan.




    Suku Bali memiliki bahasa dan dialek sendiri, yaitu bahasa Bali. Bahasa ini memiliki beberapa tingkatan yang digunakan sesuai dengan situasi dan status sosial pembicara. Masyarakat Bali juga terkenal dengan keterampilan mereka dalam seni dan kerajinan, seperti seni lukis, patung, tari, dan musik. Tarian tradisional Bali, seperti Tari Kecak dan Tari Barong, sering dipentaskan dalam upacara keagamaan maupun acara wisata, menampilkan keindahan gerak dan kostum yang kaya warna. Seni ukir dan kerajinan tangan, terutama yang berbahan kayu dan perak, juga merupakan bagian penting dari budaya Bali.


   Sistem sosial masyarakat Bali sangat dipengaruhi oleh sistem desa yang disebut "desa adat". Setiap desa adat memiliki pemimpin dan organisasi yang mengatur kehidupan sosial, budaya, dan agama warganya. Kearifan lokal yang ada dalam masyarakat Bali mengajarkan pentingnya gotong royong dan saling menghormati. Masyarakat Bali dikenal dengan sikap ramah tamah, di mana pengunjung atau wisatawan sering merasa disambut dengan hangat. Keberadaan lembaga adat juga membantu menjaga tradisi dan warisan budaya Bali agar tetap hidup meski menghadapi modernisasi.



   Namun, dengan perkembangan pariwisata yang pesat di Bali, masyarakat Bali menghadapi tantangan dalam mempertahankan budaya asli mereka. Peningkatan jumlah wisatawan sering kali membawa perubahan dalam cara hidup dan nilai-nilai masyarakat. Meskipun demikian, banyak orang Bali yang berusaha untuk menjaga tradisi dan kebudayaan mereka dengan tetap melaksanakan ritual dan upacara keagamaan. Mereka juga memanfaatkan pariwisata sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya mereka kepada dunia sambil tetap berpegang pada nilai-nilai asli.


   Secara keseluruhan, suku Bali merupakan contoh masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi. Mereka tidak hanya mempertahankan warisan leluhur tetapi juga beradaptasi dengan perkembangan zaman. Keberadaan suku Bali sangat penting dalam membentuk identitas pulau Bali sebagai destinasi wisata dunia yang terkenal, serta sebagai tempat di mana budaya dan tradisi masih hidup dan dihormati. Dengan demikian, keberlanjutan budaya Bali akan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk generasi mendatang dalam menjaga kekayaan budaya yang telah ada selama berabad-abad.


Sumber : [Wikipedia tentang Suku Bali](https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali).


Blog ke 12

SUKU JAWA

   Suku Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia yang mayoritas menetap di Pulau Jawa, khususnya di provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. Mereka dikenal dengan budaya yang sangat beragam dan kaya akan tradisi, mulai dari bahasa, kesenian, hingga adat istiadat yang khas. Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang masih banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Bahasa ini memiliki tingkatan yang mencerminkan kesopanan, yaitu ngoko (bahasa kasar), krama (bahasa sopan), dan krama inggil (bahasa halus). Selain itu, suku Jawa terkenal dengan prinsip "tepo seliro," yaitu sikap tenggang rasa dan menghargai perasaan orang lain. Prinsip ini tercermin dalam sikap keseharian mereka yang cenderung sopan dan menghindari konflik terbuka.




   Agama dan spiritualitas juga memiliki peran yang besar dalam kehidupan masyarakat Jawa. Mayoritas suku Jawa memeluk agama Islam, namun terdapat pula yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Meskipun begitu, banyak tradisi spiritual yang masih kental, seperti Kejawen, sebuah sistem kepercayaan yang memadukan antara unsur-unsur Hindu, Buddha, dan Islam, yang lebih menekankan pada hubungan antara manusia dengan alam dan sang pencipta. Upacara adat yang berkaitan dengan Kejawen, seperti slametan atau selamatan, masih sering dilaksanakan untuk meminta berkah dan keselamatan. Budaya spiritual ini memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Jawa, di mana nilai-nilai kearifan lokal masih dipegang erat.


   Kesenian suku Jawa juga sangat beragam dan kaya akan nilai filosofis. Salah satu seni yang paling terkenal adalah wayang kulit, yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pendidikan moral bagi masyarakat. Wayang kulit biasanya dimainkan semalam suntuk oleh seorang dalang yang menceritakan kisah-kisah dari Mahabharata dan Ramayana. Selain wayang kulit, ada juga seni tari yang sangat terkenal seperti tari Bedhaya dan tari Gambyong yang menggambarkan kelembutan dan kehalusan budaya Jawa. Kesenian lainnya adalah gamelan, yaitu ansambel musik tradisional yang terdiri dari berbagai instrumen seperti gong, kendang, dan saron. Gamelan biasanya dimainkan dalam berbagai acara adat dan upacara sebagai ungkapan rasa syukur atau penyambutan tamu.




   Dalam kehidupan sosialnya, suku Jawa memiliki nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang sangat kuat. Konsep gotong royong ini sering diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kerja bakti membersihkan lingkungan hingga membantu tetangga yang sedang membutuhkan. Rasa kebersamaan ini juga tercermin dalam tradisi kenduri, di mana seluruh anggota masyarakat berkumpul untuk mendoakan dan berbagi makanan dalam suasana kekeluargaan. Selain itu, masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka percaya bahwa sopan santun adalah salah satu bentuk penghormatan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.


   Secara keseluruhan, suku Jawa memiliki budaya yang sangat kaya dan kompleks, serta memberikan kontribusi besar terhadap keberagaman budaya Indonesia. Nilai-nilai seperti kesopanan, kebersamaan, dan spiritualitas telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas mereka. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Jawa terus berupaya mempertahankan tradisi dan kearifan lokal mereka agar tetap lestari. Budaya Jawa tidak hanya menjadi identitas mereka, tetapi juga menjadi warisan yang perlu dijaga oleh generasi penerus. Dalam dunia yang semakin maju, suku Jawa menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah masyarakat dapat tetap menjaga identitas budaya mereka tanpa harus kehilangan relevansi di era globalisasi.


Sumber :

1. [Kompas.com - Mengenal Suku Jawa dan Budayanya](https://www.kompas.com)

2. [Indonesia.go.id - Budaya Suku Jawa](https://www.indonesia.go.id)

3. [Britannica - Javanese Culture](https://www.britannica.com)


Blog ke 11

SUKU SUNDA

    Suku Sunda merupakan kelompok etnis yang mendiami sebagian besar wilayah Jawa Barat dan Banten. Sejarah mereka ditelusuri hingga masa Kerajaan Sunda yang berpusat di Pajajaran sekitar abad ke-11, serta pengaruh dari kerajaan lain seperti Salakanagara dan Tarumanegara. Meski dahulu wilayah Jawa Barat dianggap kurang berkembang dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun seiring waktu, budaya Sunda berkembang kaya dengan keunikan yang hingga kini tetap lestari.



   Sebagian besar masyarakat Sunda memeluk agama Islam, tetapi kepercayaan asli Sunda, yakni Sunda Wiwitan, masih dianut oleh komunitas-komunitas kecil seperti di Kuningan dan masyarakat Baduy di Banten. Sunda Wiwitan mengenal konsep spiritual seperti Tri Tangtu, yang menyatukan kekuatan raja, rama (ayah), dan resi untuk keseimbangan hidup.

    Bahasa Sunda yang memiliki beberapa dialek berbeda di setiap daerah, seperti Priangan, Cirebon, dan Banyumas, adalah identitas penting bagi suku ini. Mereka juga terkenal dengan karakteristik "cageur, bageur, bener, singer, pinter," yang artinya sehat, baik, benar, mawas diri, dan cerdas.



  Kesenian Sunda yang paling terkenal antara lain Tari Jaipong dan Wayang Golek, yang biasanya diiringi musik Degung khas Sunda. Alat musik seperti kacapi, suling, dan angklung sering dimainkan dalam acara adat dan menjadi ciri khas yang lekat dalam kehidupan seni mereka.


Sumber :  [Jabarekspres](7), [Gramedia](7), [GoodMinds](9), [Rimbakita](8).


Blog ke 10

Friday, October 25, 2024

KERAJAAN HINDU PERTAMA DI INDONESIA

   Kerajaan bercorak Hindu pertama di Indonesia adalah Kerajaan Kutai yang berada di kawasan Sungai Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada sekitar tahun 400 Masehi. Keberadaan Kerajaan Kutai dapat dibuktikan melalui prasasti Yupa yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa. Prasasti tersebut mengungkap bahwa pendiri kerajaan ini adalah Kudungga, yang merupakan keturunan asli Indonesia.




  Seiring berjalannya waktu, pengaruh Hindu dari India mulai masuk dan memengaruhi Kerajaan Kutai, terutama melalui keturunan Kudungga seperti Aswawarman dan Mulawarman. Nama kedua raja tersebut menunjukkan pengaruh budaya Hindu. Aswawarman dikenal sebagai sosok yang berperan besar dalam memperkuat kerajaan, sedangkan Raja Mulawarman membawa Kutai pada masa kejayaannya.

   Masa kejayaan Kerajaan Kutai terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Raja ini dikenal karena sering mengadakan upacara pengorbanan emas sebagai persembahan untuk para dewa serta dibagikan kepada masyarakat sekitar. Upacara tersebut menunjukkan kemakmuran dan kedudukan penting Raja Mulawarman di mata masyarakat serta menandakan tingginya perkembangan budaya Hindu di Kutai.

   Dilihat dari aspek sosial, Kerajaan Kutai mengalami perkembangan dari sistem kesukuan menuju sistem kerajaan. Masyarakat di kerajaan ini juga sudah memiliki golongan terdidik yang mampu memahami bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pengetahuan dalam kerajaan tersebut cukup berkembang pada masa itu.

  Secara ekonomi, Kerajaan Kutai berada di wilayah yang strategis di dekat Sungai Mahakam, membuat lahan di sekitarnya subur untuk pertanian. Hal ini mendukung perekonomian masyarakat yang bekerja sebagai petani, pedagang, dan peternak. Selain itu, kerajaan ini juga menerapkan sistem pajak kepada pedagang dari wilayah lain yang melakukan perdagangan di Kutai, yang turut memperkuat perekonomian kerajaan.

Sumber : Kumparan.com


Blog ke 9


Vlog ke 11 Suku Jawa

  Hallo teman teman 👋🏻👋🏻 Divideo kali ini kami membahas tentang kota Jakarta dulunya bernama Batavia. Yuk simak video nyaa🤗🤗 Anggota k...