ᴄᴀʀɪ ᴅɪꜱɪɴɪ

Tuesday, October 29, 2024

SUKU DAYAK

   Suku Dayak merupakan kelompok etnis yang tinggal di pulau Kalimantan, Indonesia, dengan sejarah yang kaya dan budaya yang unik. Mereka dikenal karena kehidupan komunitasnya yang terpusat di rumah panjang, tempat tinggal tradisional yang mencerminkan kerja sama sosial. Rumah panjang ini sering dihiasi dengan ukiran yang indah dan memiliki makna spiritual bagi masyarakat Dayak.


   Masyarakat Dayak terkenal dengan pakaian adat yang terbuat dari kulit kayu, seperti king baba untuk pria dan king bibinge untuk wanita. Proses pembuatan pakaian ini melibatkan pengolahan kulit kayu hingga menjadi lentur dan dihias dengan warna alami. Aksesori dan perhiasan etnik juga menjadi bagian penting dari budaya mereka, menambah keindahan penampilan pada acara adat.


Rumah Adat 

   Tradisi dan upacara adat Suku Dayak sangat beragam, termasuk ritual penyambutan tamu, perayaan panen, serta upacara kematian. Upacara kematian, yang dikenal dengan sebutan "ngaben," seringkali melibatkan prosesi yang megah, simbolis, dan mengandung makna mendalam tentang perjalanan jiwa. Suku Dayak meyakini bahwa kehidupan tidak berakhir dengan kematian, melainkan berlanjut di dunia lain.

   Kehidupan sehari-hari suku Dayak sangat dipengaruhi oleh lingkungan alam sekitar mereka. Masyarakat Dayak biasanya mengandalkan pertanian, berburu, dan meramu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi, mereka berusaha menjaga warisan budaya dan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.


Sumber:  [Parboaboa](https://parboaboa.com/mengenal-suku-dayak-sejarah-tradisi-dan-ragam-kebudayaan)


Blog ke 33

NASI LIWET MAKANAN KHAS SOLO

   Nasi liwet khas Kota Solo berbeda dengan nasi liwet yang berada di Jawa Barat maupun daerah lainnya. Nasi liwet Solo adalah nasi gurih yang dimasak dengan santan kelapa. Nasi tersebut disajikan dengan sayur labu siam yang dimasak sedikit pedas, telur pindang rebus, daging ayam opor yang disuwir, serta kumut atau areh alias kuah santan yang dikentalkan. Wadah nasi liwet ini cukup unik dengan menggunakan pincuk; alas atau wadah makan tradisional dari daun pisang.




   Dalam buku “Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa” karya Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum dan Swastika Dewi, disebutkan bahwa nasi liwet sebetulnya bukan berasal dari kaum bangsawan atau keraton. Nasi liwet dibuat oleh masyarakat biasa yang tinggal di Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Sekitar tahun 1934, masyarakat Menuran mulai mencoba menjual nasi liwet ke sekitar wilayah Solo atau Surakarta. Dari sinilah, nasi liwet mulai dikenal dan dikonsumsi oleh keluarga bangsawan dan Kasunanan.

   Nasi liwet khas Solo adalah hidangan nasi gurih yang dimasak dengan santan, mirip dengan nasi uduk, namun memiliki cita rasa dan penyajian yang khas. Nasi liwet Solo biasanya disajikan dengan berbagai pelengkap seperti sayur labu siam (jipang) yang dimasak gurih, opor ayam, telur pindang, dan areh (saus kental dari santan yang dikentalkan tanpa tambahan bumbu).

   Ciri khas lainnya adalah cara penyajiannya yang unik, yakni menggunakan daun pisang yang dibentuk pincuk, membuat aromanya semakin nikmat. Rasa nasi yang gurih dari santan, dipadukan dengan kelezatan sayur dan lauknya, membuat nasi liwet Solo menjadi sajian yang terkenal dan banyak digemari, terutama di kota Solo sendiri.

   Nasi liwet Solo memiliki sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan budaya kuliner Jawa, khususnya di kota Solo (Surakarta). Makanan ini sudah ada sejak masa kerajaan di Jawa, sekitar abad ke-19, dan dulunya hanya disajikan dalam lingkungan kerajaan atau dalam acara adat dan ritual tertentu. Seiring waktu, hidangan ini menjadi populer di kalangan masyarakat dan mulai disajikan di berbagai acara seperti kenduri, syukuran, hingga acara keluarga.

   Awalnya, nasi liwet menjadi makanan yang menunjukkan status sosial karena menggunakan bahan-bahan yang terbilang mewah pada zamannya, seperti santan dan rempah yang khas. Kini, nasi liwet tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga hidangan sehari-hari yang bisa ditemukan di warung makan, bahkan dijajakan oleh pedagang kaki lima di Solo.

Sumber : https://wonderfulimages.kemenparekraf.go.id/


Blog ke 32

KETOPRAK MAKANAN KHAS BETAWI

    Ketoprak berasal dari Betawi yang juga diketahui berakar di Jakarta. Sejarah ketoprak memiliki akar yang kuat dalam budaya Betawi, suku asli Jakarta yang memiliki warisan kuliner yang kaya dan unik. Ketoprak mulai muncul pada awal abad ke-20 sebagai salah satu variasi dari hidangan mi kering yang populer saat itu.



    Sejarah ketoprak yang menarik dimulai dari namanya yang unik. Nama “ketoprak” sendiri diyakini berasal dari bahasa Betawi, yang memiliki arti “ketupat taoge digeprak”. Hal ini menggambarkan cara penyajian ketoprak di atas piring, di mana berbagai bahan seperti toge, tahu, dan ketupat tersebar merata dan dilapisi dengan saus kacang.

   Pada awalnya, ketoprak dijual oleh pedagang kaki lima sebagai makanan ringan yang murah meriah dan praktis. Kelezatan dan kesederhanaan ketoprak membuatnya cepat diterima oleh masyarakat Jakarta dan segera menjadi hidangan yang populer di kalangan warga setempat.

   Ketoprak merupakan makanan khas Indonesia yang terbuat dari berbagai bahan, seperti bihun, taoge, tahu, lontong, mentimun, dan kol. Makanan ini disiram dengan bumbu kacang dan kecap kental manis, serta ditambahkan kerupuk goreng. 

Ada beberapa versi mengenai asal-usul nama ketoprak, yaitu:

• Nama ketoprak berasal dari bunyi piring yang terjatuh saat penjual makanan sedang menghidangkan ketoprak. 

• Nama ketoprak merupakan singkatan dari ketupat dan taoge yang digeprak. 

    Selain ketoprak sebagai makanan, ketoprak juga merupakan kesenian rakyat yang berasal dari Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kesenian ini memadukan berbagai unsur kesenian, seperti karawitan, tari, dagelan, tembang, tata artistik, dan  seni peran. 


Sumber : Wikipedia 

Blog ke 31

Monday, October 28, 2024

AWUG MAKANAN KHAS BANDUNG

    Awug adalah makanan tradisional khas bandung yang terbuat dari tepung beras, kelapa, aroma daun pandan dan gula merah yang dikukus didalam aseupan (kukusan berbentuk lancip untuk membuat tumpeng).



   Menurut sejarahnya, Awug sudah akrab di kenal oleh masyarakat Sunda sejak tahun 1940-an, lho. Konon, pada saat itu, jajanan ini kerap kali dijadikan sebagai menu sarapan oleh para pejabat kerajaan. 

    Mulanya, masyarakat bahan dasar Awug terbuat dari tepung gaplek yang terbuat dari singkong. namun sejak tahun 1970-an masyarakat mulai jarang menggunakan gaplek dan beralih menggunakan tepung beras sebagai bahan dasar beberapa kue tradisional.

    Sekilas, Awug terlihat sama dengan Kue Putu. Meski sama-sama berbahan dasar tepung beras dengan isian gula merah, perbedaan dari Putu dan Awug terletak pada proses pembuatannya. Awug menggunakan aseupan, sedangkan Putu menggunakan bambu. 

    Konon sejarahnya awug adalah jajanan khas Sunda yang berasal dari wilayah pedalaman. Makanan ini biasanya dibuat oleh masyarakat lokal saat panen usai. Ajang Muhidin, mengisahkan pengalaman dirinya saat dulu memperhatikan neneknya membuat awug di kampungnya, Cicalengka. Ia lalu menirunya dan berhasil membuat awug enak yang sama. Kemudian, ia mencoba peruntungannya dengan menjajakan awug di Bandung. Saat itu tahun 1978, dan belum ada yang menjual awug di sekitaran bandung.

   Dengan menggunakan gerobak, Ajang berkeliling menjual awug hangat buatannya di sekitar kawasan pasar Cicadas. Banyak pedagang pasar di sana yang menyukai awug Ajang. Ajang cukup selektif dalam memilih bahan baku. Bahan baku yang dipilih (terutama beras) harus yang berkualitas. 

   Proses pembuatan awug sendiri cukup panjang. Beras direndam selama 24 jam. Kemudian, digiling hingga halus menjadi tepung. Lalu, dikukus setengah matang dan didiamkan selama tujuh jam. Setelah itu, dikukus kembali bersama gula merah dengan menggunakan kukusan atau aseupan. Setelah matang, awug disajikan hangat dengan parutan kelapa. Dengan adanya respon positif, Ajang lalu membuka kios di daerah Cibeunying pada tahun 1980.

   Meskipun bentuknya sederhana, namun saat dirasakan dimulut akan merasa ketagihan terutama bagi penggemar makanan tradisional khas indonesia. awug ini akan terasa nikmat apabila dikonsumsi hangat sore atau malam hari sebagai makanan yang ringan / cukup berat karena sudah mengandung karbohidrat.


Sumber : https://infogarut.id/


Blog ke 30

KUE PUTU MAKANAN KHAS JAWA DAN SUMATERA

   Kue putu adalah salah satu jenis kue tradisional Indonesia yang populer di daerah Jawa dan Sumatera. Kue ini terbuat dari beras ketan yang diisi dengan gula merah cair, kemudian dimasak menggunakan cetakan dari bambu yang disebut putu.

   Secara umum, di Indonesia ada dua jenis Kue Putu, yaitu Kue Putu asal Jawa dan Kue Putu asal Medan. Kue Putu asal Jawa berwarna hijau dan Kue Putu asal Medan berwarna putih. Ternyata asal mula tentang Kue Putu ini ditemukan di China Silk Museum.

   Kue putu atau puthu sudah menjadi jajanan pasar yang sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Cara pembuatan yang unik yaitu dikukus di dalam bambu-bambu sehingga menimbulkan suara nyaring yang khas. Kue ini sangat digemari berkat rasanya yang nikmat, apalagi jika disantap selagi hangat.



Kue Putu dari Jawa


Kue putu dari Sumatera 

   Namun di balik kenikmatannya, terdapat cerita menarik tentang asal muasal kue putu yang telah dirangkum di bawah ini. Kue putu merupakan salah satu jajanan khas Jawa. Sebenarnya kue ini dapat ditemukan di China Silk Museum dan sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu yaitu masa Dinasti Ming.

Namun di balik kenikmatannya, terdapat cerita menarik tentang asal muasal kue putu yang telah dirangkum di bawah ini.

   Kue putu merupakan salah satu jajanan khas Jawa. Sebenarnya kue ini dapat ditemukan di China Silk Museum dan sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu yaitu masa Dinasti Ming.

    Zaman dahulu, kue putu disebut XianRoe Xiao Long, yaitu kue dari tepung beras yang diisi kacang hijau lembut yang dimasak dalam cetakan bambu. Semakin berkembang hingga disebut putu karena dalam naskah sastra lama, Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1814 di masa kerajaan Mataram, muncullah nama puthu. Pada naskah tersebut disebutkan bahwa Ki Bayi Panurta yang meminta santrinya menyediakan hidangan pagi menyajikan makanan pendamping berupa serabi dan puthu. Puthu identik dengan kudapan yang disajikan pagi hari. Isian puthu sendiri ikut berubah dari kacang hijau jadi gula jawa yang saat itu tentunya, lebih mudah didapatkan.


Sumber : https://telusurkultur.com/


Blog ke 29

SUKU PAPUA

  Suku Papua adalah kelompok masyarakat asli dari wilayah Papua yang terdiri dari berbagai sub-suku, seperti Dani, Asmat, dan Biak, masing-masing dengan bahasa dan tradisi uniknya. Masyarakat Papua memiliki berbagai upacara adat yang memperkuat identitas budaya dan nilai komunitas, misalnya tradisi bakar batu, yang merupakan ritual memasak bersama sebagai simbol solidaritas dan persatuan. Dalam acara ini, masyarakat mengumpulkan bahan-bahan seperti batu dan kayu, lalu memasaknya dengan cara khas untuk menyatukan seluruh keluarga atau komunitas, menunjukkan rasa syukur pada Tuhan.



   Tradisi lain yang mencolok adalah Nasu Palek atau tradisi iris telinga, yang dilakukan oleh Suku Dani sebagai tanda duka saat kehilangan anggota keluarga. Setiap irisan telinga menunjukkan penghormatan kepada almarhum. Selain itu, Suku Asmat memiliki ritual pemakaman yang khas, di mana jenazah ditempatkan di atas perahu dan dibiarkan mengalir ke laut. Ini mencerminkan rasa kasih dan penghormatan mendalam kepada leluhur mereka, yang dilanjutkan dengan menyimpan tulang di tempat khusus sebagai kenangan.

    Selain itu, suku-suku di Papua juga memiliki tradisi lainnya, seperti Snap Mor, tradisi Suku Biak untuk menangkap ikan saat air laut surut. Ritual ini memperlihatkan kecakapan masyarakat Biak dalam membaca tanda-tanda alam dan memperkuat kebersamaan mereka. Sedangkan Suku Marind-Anim di Papua Selatan memiliki upacara tanam sasi sebagai bagian dari prosesi kematian yang diikuti dengan kayu sasi sebagai simbol kehadiran leluhur.


Upacara Tanam Sasi

   Melalui ragam tradisi ini, suku-suku di Papua menunjukkan komitmen pada nilai-nilai solidaritas, penghormatan leluhur, dan kesatuan alam. Meskipun berbeda satu sama lain, seluruh tradisi ini mencerminkan kekayaan budaya Papua yang sarat akan makna spiritual dan sosial, menjaga harmoni antar anggota komunitas mereka.


Sumber : [Indonesia.go.id](29) dan [Salam Papua](30).


Blog ke 28

SUKU MINAHASA SULAWESI

    Suku Minahasa berasal dari Sulawesi Utara dan dikenal dengan warisan budaya serta sejarah yang kaya. Menurut legenda, nenek moyang mereka adalah Toar dan Lumimuut. Pembagian kelompok awal terjadi dalam bentuk tiga klan besar, yang dikenal sebagai Makarua Siouw, Makatelu Pitu, dan Pasiowan Telu. Mereka berkembang menjadi beberapa sub-etnis, seperti Tombulu, Tonsea, Tondano, dan Tontemboan.




   Suku ini memiliki kebudayaan unik, termasuk upacara pemakaman yang dikenal dengan "Ma'nene," di mana jenazah leluhur dibersihkan dan dikenakan pakaian baru setiap beberapa tahun. Upacara ini mencerminkan hubungan kuat antara mereka dengan leluhur, dan sangat dihormati di antara komunitas mereka.

  Orang Minahasa juga dikenal dengan bahasa Minahasa, yang memiliki beberapa dialek tergantung pada sub-etnisnya. Salah satu simbol persatuan mereka adalah batu peringatan, Watu Pinawetengan, yang menjadi tempat pertemuan leluhur untuk menetapkan peraturan dan pembagian wilayah.



Rica rica

  Di bidang kuliner, Suku Minahasa terkenal dengan masakan yang pedas dan berani menggunakan bahan seperti daging hewan liar, serta bumbu lokal seperti rica dan woka. Masakan mereka mencerminkan kekayaan alam Sulawesi Utara serta selera yang khas dan berani.


Sumber :  [Wikipedia tentang Suku Minahasa](20).


Blog ke 27

Vlog ke 11 Suku Jawa

  Hallo teman teman 👋🏻👋🏻 Divideo kali ini kami membahas tentang kota Jakarta dulunya bernama Batavia. Yuk simak video nyaa🤗🤗 Anggota k...